Tfd6TUOlGUM7TSWpGUY0GSY5TY==
  • Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

Menteri Koperasi Hadapi Tantangan Pengelolaan Data Koperasi Desa Merah Putih

Featured Image

Koperasi Desa Merah Putih Memasuki Tahap Operasionalisasi

Koperasi Desa Merah Putih kini memasuki tahap kedua atau operasionalisasi. Dalam seminar nasional ekonomi kerakyatan yang diadakan di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyampaikan tantangan yang dihadapi dalam proses pengelolaan data desa. Ia mengungkapkan bahwa masalah utama adalah kurangnya data yang akurat dan lengkap mengenai potensi serta kebutuhan desa.

Ferry menjelaskan bahwa pihaknya kesulitan dalam memproses data karena tidak adanya informasi yang presisi. “Banyak data yang hanya menjelaskan tentang potensi desa, tetapi tidak mencakup kebutuhan dan profil desa secara keseluruhan,” ujarnya. Contoh nyata yang disampaikannya adalah koperasi desa yang ingin menjadi penyalur gas elpiji 3 kilogram. Namun, saat meminta data jumlah rumah tangga petani yang membutuhkan gas tersebut dari Badan Pusat Statistik (BPS), jawabannya tidak memenuhi harapan.

“BPS hanya memiliki DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional), namun basis datanya sulit diakses,” jelas Ferry. Untuk mengatasi hal ini, Kementerian Koperasi bekerja sama dengan guru besar sosiologi pedesaan dari IPB University untuk membuat aplikasi data desa presisi. Aplikasi ini menggunakan drone untuk mengumpulkan data geospasial, melatih warga desa melakukan validasi, dan menganalisis hasilnya dengan artificial intelligent (AI).

Hasil dari sistem ini adalah 289 indikator atau parameter yang mencakup potensi desa, kebutuhan desa, dan profil desa yang diperlukan untuk pengambilan kebijakan. Pengumpulan data desa presisi mencakup berbagai aspek seperti data spasial, kondisi sosial ekonomi warga, serta demografi seperti usia, pendidikan, dan kondisi rumah.

Ferry menyoroti bahwa hingga saat ini, sekitar 46 persen penerima gas elpiji 3 kilogram tidak tepat sasaran. Ia juga menyebut bahwa bansos dan BLT hampir 50 persen salah sasaran. “Ini berdampak pada munculnya mafia data,” ujarnya. Menurut Ferry, data yang tidak akurat akan menghasilkan keputusan yang tidak valid dan kurang efektif.

Hingga 21 September 2025 pukul 22.50 WIB, jumlah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang memiliki akun Simkopdes atau Sistem Informasi Manajemen Koperasi Desa/Kelurahan tercatat sebanyak 43.956 unit. Dari jumlah tersebut, 10.219 koperasi telah beroperasi. Sistem informasi ini digunakan untuk memantau dan mengelola koperasi secara real time. Setiap koperasi desa atau kelurahan diwajibkan masuk ke dalam microsite agar bisa mengajukan pembiayaan, serta terhubung dengan BUMN, marketplace UMKM, dan lembaga lain.

Menteri Koperasi Hadapi Tantangan Pengelolaan Data Koperasi Desa Merah Putih

0

0 Comments for "Menteri Koperasi Hadapi Tantangan Pengelolaan Data Koperasi Desa Merah Putih"